Inilah yang gua
rasakan sekarang. Di mana saat-saat nikmatnya iman satu tahun yang lalu bersama
orang-orang hijrah untuk menuntut ilmu (mahasiswa STDI dan STIU al hikmah) di
Jakarta dan sekarang sudah berbeda. Saat-saat itu kami berbagi pengalaman,
ilmu, dan juga kegembiraan. Di mana merasakan setiap pagi halaqoh, setoran
hafalan, belajar tahsin, dan juga mabit. Setoran ke ustadz-ustadz yang luar
biasa pengalamannya dan mengajarkan ke murid-murid yang luar biasa semangatnya.
Mengikuti kajian-kajian, kursus Bahasa Arab di LIPIA, menjadi panitia Ramadhan
dan masih banyak lagi.
YA GUA RINDU SEMUA
ITU.
Saat ini gua berjalan
sendirian, memilih sendiri mana yang terbaik untuk masa depan, apakah membuang
waktu untuk hura-hura atau untuk masa depan. Apakah memilih untuk menyendiri atau
berbaur, apakah memilih kegiatan yang sudah direncanakan atau memilih untuk
bersama teman. Apakah memilih untuk berorganisasi atau memilih untuk akademis,
apakah memilih untuk terlihat baik di depan orang atau memilih untuk
berpura-pura nakal, apakah memilih untuk tinggal di wisma atau memilih tinggal
di rumah tahfidz. Inilah yang gua rasakan sekarang, tidak tau arah, tidak tau
yang mana harus dipilih, tidak ada yang membimbing atau gua yang hanya diam
untuk tidak mengatakannya kepada orang lain.
Syeikh google udah gua
temui, rumah tahfidz di Tembalang susah dicari minimal program tahfidz tetapi
tetap tidak ada. Meskipun ada yaitu di Masjid Pangeran Diponegoro (MPD), yaitu
setiap hari Jum’at sore, itupun cuma sekali seminggu dan gua rasa ustadznya
sibuk untuk mengisi kajian-kajian di kota Semarang ini. Katanya ada juga QLC di
Masjid Kampus (Maskam), tetapi udah gua lihat-lihat buka pendaftaran tahun
kemarin dan awal halaqohnya bulan Mei dan 3 kali pertemuan sepekan. Sungguh
sayang sekali kalau harus menunggu selama itu. Mau dibawa kemana hafalan ini Ya
Allah.
Tembalang krisis
huffadz, gua butuh program quran, rumah tahfidz, kalau ada ya beasiswa. Gua
butuh pembimbing supaya gak lalai. Gua butuh pembimbing supaya teratur. Gua butuh
pembimbing supaya masa depan cerah. Gua gak mau hidup seperti ini, hanya
menghabiskan waktu untuk kesenangan dunia. Gua takut ajal tiba di saat keimanan
gua turun.
Semoga kalian yang
membaca ini turut mendoakan bagi kami yang di Semarang untuk mendapatkan yang
terbaik. Mendoakan supaya quran menerangi Semarang. Seandainya Ustadz Yusuf
Mansur bisa membangun rumah qur’an untuk mahasiswa UNDIP, tapi bagaimana
caranya untuk mengasih tau beliau kalau UNDIP membutuhkannya. Cukup meminta
kepada Allah swt aja mungkin seperti ceramah-ceramah beliau yang sering bilau
angkat, tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah swt. Meskipun tidak secepat
kilat, doakan gua supaya bertahan hidup di sini dan tidak terpengaruh
godaan-godaan. Menguatkan keinginan gua sampai akhir hayat agar tidak pudar. Membangun kehidupan qur'an di Semarang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar