Iman Terkadang Naik dan Terkadang Turun

  • 0
Inilah yang gua rasakan sekarang. Di mana saat-saat nikmatnya iman satu tahun yang lalu bersama orang-orang hijrah untuk menuntut ilmu (mahasiswa STDI dan STIU al hikmah) di Jakarta dan sekarang sudah berbeda. Saat-saat itu kami berbagi pengalaman, ilmu, dan juga kegembiraan. Di mana merasakan setiap pagi halaqoh, setoran hafalan, belajar tahsin, dan juga mabit. Setoran ke ustadz-ustadz yang luar biasa pengalamannya dan mengajarkan ke murid-murid yang luar biasa semangatnya. Mengikuti kajian-kajian, kursus Bahasa Arab di LIPIA, menjadi panitia Ramadhan dan masih banyak lagi.

YA GUA RINDU SEMUA ITU.

Saat ini gua berjalan sendirian, memilih sendiri mana yang terbaik untuk masa depan, apakah membuang waktu untuk hura-hura atau untuk masa depan. Apakah memilih untuk menyendiri atau berbaur, apakah memilih kegiatan yang sudah direncanakan atau memilih untuk bersama teman. Apakah memilih untuk berorganisasi atau memilih untuk akademis, apakah memilih untuk terlihat baik di depan orang atau memilih untuk berpura-pura nakal, apakah memilih untuk tinggal di wisma atau memilih tinggal di rumah tahfidz. Inilah yang gua rasakan sekarang, tidak tau arah, tidak tau yang mana harus dipilih, tidak ada yang membimbing atau gua yang hanya diam untuk tidak mengatakannya kepada orang lain.

Syeikh google udah gua temui, rumah tahfidz di Tembalang susah dicari minimal program tahfidz tetapi tetap tidak ada. Meskipun ada yaitu di Masjid Pangeran Diponegoro (MPD), yaitu setiap hari Jum’at sore, itupun cuma sekali seminggu dan gua rasa ustadznya sibuk untuk mengisi kajian-kajian di kota Semarang ini. Katanya ada juga QLC di Masjid Kampus (Maskam), tetapi udah gua lihat-lihat buka pendaftaran tahun kemarin dan awal halaqohnya bulan Mei dan 3 kali pertemuan sepekan. Sungguh sayang sekali kalau harus menunggu selama itu. Mau dibawa kemana hafalan ini Ya Allah.
Tembalang krisis huffadz, gua butuh program quran, rumah tahfidz, kalau ada ya beasiswa. Gua butuh pembimbing supaya gak lalai. Gua butuh pembimbing supaya teratur. Gua butuh pembimbing supaya masa depan cerah. Gua gak mau hidup seperti ini, hanya menghabiskan waktu untuk kesenangan dunia. Gua takut ajal tiba di saat keimanan gua turun.


Semoga kalian yang membaca ini turut mendoakan bagi kami yang di Semarang untuk mendapatkan yang terbaik. Mendoakan supaya quran menerangi Semarang. Seandainya Ustadz Yusuf Mansur bisa membangun rumah qur’an untuk mahasiswa UNDIP, tapi bagaimana caranya untuk mengasih tau beliau kalau UNDIP membutuhkannya. Cukup meminta kepada Allah swt aja mungkin seperti ceramah-ceramah beliau yang sering bilau angkat, tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah swt. Meskipun tidak secepat kilat, doakan gua supaya bertahan hidup di sini dan tidak terpengaruh godaan-godaan. Menguatkan keinginan gua sampai akhir hayat agar tidak pudar. Membangun kehidupan qur'an di Semarang. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar