SEDERHANA saja, “Jika namamu tidak tertulis ‘ada’ di masa depanku, setidaknya lisanmu pernah memberikan pengharapan yang membuat hati ingin terus menunggu [*].” Berat untuk bersemoga harap melakukan pendampingan cinta selain denganmu. Sebab nyata adanya telah kusediakan sebentuk ruang di kedalaman batin untuk mendoa yakin, suatu ketika Allah yang akan menuntunmu menjantung di dadaku. Menjadi napas yang menghidupkan kasih sayang antara kau dan aku yang saling merindu!
Mendamba untuk melakukan pendampingan cinta di sisimu serupa ketidakmungkinan yang selalu kusemogakan. Bahkan, banyak yang menyebut kesanggupanku menanti serupa kegilaan. Orang bilang, aku gila karena mencintaimu, tetapi bagiku itu tidaklah penting. Sebab sejatinya, kegilaan terbesar apabila kita tidak memiliki cinta. Bukankah selalu ada hal-hal yang di luar nalar pikir manusia apabila menyangkut perkara cinta. Rindu misalnya, ia terlisan oleh kata namun sukar terdefenisi jiwa kala melaksanakannya. Ada kebahagiaan dalam kesakitan-itulah sejatinya puncak keluhuran seorang perindu
Demikian yang kurasa pula. Bahagia dalam kesakitan akibat selalu menerjemahkanmu di dalam kenang. Segala tentangmu membayang indah dalam jelaga pikirku. Perlahan kuhimpun percakapan-percakapan kita yang menderas serupa guyuran hujan, katamu, “Silakan mencintaiku, serupamu besar harap kumilki adamu sebagai kecintaanku. Hanya saja, untuk saat ini cukuplah saling mendoakan satu sama lain agar terselamatkan dari tipudaya nafsu. Kita tak pernah tahu rencana-Nya, tetapi setidaknya kita berhak saling merindukan meski terlafaz dalam diam bersebab sebuah pilihan, menjaga kalbu agar Allah tiada cemburu.”
Kemudian masih lekat dalam ingatan satu petuahmu, “Bukankah melibatkan Allah dalam rindu yang kita rasa akan jauh lebih bijaksana daripada mengabaikan-Nya dengan memberhalakan nafsu? Tidak perlu berjibaku tafsir perihal adakah rindu kita akan dibalas dengan ikatan pernikahan, sebab kita bukan pemaksa kehendak Tuhan. Bila memang, tak berjodoh yakinlah ada yang Dia anggap lebih layak melakukan pendampingan cinta baik untukmu maupun untukku.”
Aku tersenyum getir. Kutahan diri agar tiada menyahut petuahmu waktu itu, sebab kutahu apabila gegabah sedikit saja dalam menafsirkan cinta, justru akan membuat satu sama lain terhina di mata Allah Subhanahu wa ta’ala. Kini, telah sewindu kita tiada meramu temu namun percayalah aku masih bertahan menunggu. Sungguh kita mesti mempercaya, cinta dalam diam merupakan bahasa Tuhan untuk menguatkan perasaan atas nama rindu.
Untuk teman-teman yang belum menikah...
Yang mencintai dalam diam dan keimanan...
Yang ingin cinta hakiki dan bersih dari penghambaan hawa nafsu....
Yang lebih memilih jd jomblo mulia...
Dari status yang tidak jelas dan juga terbuai nafsu asmara yang melenakan....
Yang lebih memilih pacaran setelah menikah...
Jadikan Allah swt yg paling kau cintai....
Insya Allah...Allah akan memberimu pasangan yang sholeh dan sholehah....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar