Maksiat Yang Diumbar

  • 0
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Setiap umatku akan mendapat ampunan, kecuali mujahirin (orang-orang yang terang-terangan berbuat dosa)"
(HR Bukhari dan Muslim)
Di zaman sekarang, banyak kaum muda dan mudi yang suka mengumbar maksiat, bahkan bukan hanya pemuda tetapi kalangan dewasa pun begitu. Mereka bangga dengan maksiatnya sendiri. Melakukan maksiat dianggap gaul, keren, kekinian atau apa pun itu. Tetapi akankah kita tahu apa yang telah Allah ‘Azzawajalla telah menuliskan di dalam Al Qur’an tentang kemaksiatan yang di umbar itu?

إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.”
(Qs. An-Nur:19)
Kalau sebenarnya kita tahu, apa sih dampak yang akan terjadi jika kita mengumbar kemaksiatan? Dan dampaknya adalah menghasilkan kemaksiatan baru. Oke kita lihat contohnya yang akan hadir:

Yang pertama adalah, banyak celaan yang akan hadir
Kedua adalah, kemaksiatan yang terus menerus, sehingga yang melihat akan mengikutinya dan dia akan mendapatkan dosa yang sama. Dan masih banyak lagiii

Padahal Allah ‘Azzawajalla telah berusaha menutupi aib kita, itu merupakan tanda luasnya nikmat Allah, mengapa malah kita mengumbarnya? Dan seakan-akan merasa bangga melakukannya?

Wahai sahabatku, Allah ‘Azzawajalla mempunyai rahmat dan ampunan sangat luas kepada para hamba-Nya, dan betapa keras balasan dan celaan terhadap hambanya yang durhaka kepada-Nya. Maka dari itu, entah hati ini sangat cinta dan sayang kepada kalian, maka terbesitlah tulisan ini sebagai pengingat saya dan untuk saudara-saudaraku seiman.

Marilah kita bersyukur menjadi seorang muslim yang merasakan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat bagi orang yang bertaqwa karena telah memilih kita di antara milyaran manusia lain. Besyukur dengan cara mempelajari agama islam ini dengan sempurna, mempelajari hal-hal yang menyebabkan Rabb kita menyayangi kita dan hal-hal yang menyebabkan Rabb kita marah kepada kita, sehingga kita bisa menjauh dari hal tersebut.

Jadikan kemaksiatan dan dosa-dosa menjadi hal besar di kehidupan kita sehingga kita tidak meremehkannya dan tidak menerus melakukannya. Dengan begitu, maka lisan kita senantiasa mengucapkan istighfar atas kemaksiatan dan dosa-dosa yang telah kita lakukan, serta berharap atas ampunan dan nikmat yang begitu luas.


Menasihati Tanpa Melukai

  • 0
Banyak di antara kita yang sering menasihati tetapi melupakan adab-adabnya sehingga alhasil nasihat itu sulit sekali diterima dan lebih parahnya malah menyakiti hati orang yang kita nasihati. Apa sih adab-adabnya? Yuk kita bahas...

Yang pertama adalah menasihati untuk mengharapkan ridho Allah Ta’ala
Jelas, memberi nasihat semata-mata untuk mengharapkan ridho Allah, bukan untuk mencari pujian atau sebagainya. Niat ini yang terpenting.

Kedua, Tidak dalam rangka mempermalukan orang yang dinasihati
Maksudnya apa? Maksudnya adalah ketika kita hendak menasihati orang lain, jangan sampai dia merasa dipermalukan dengan nasihat kita dan yang ada malah memperparah keadaan dan nasihat pun malah tidak berbuah.

Ketiga, Menasihati secara rahasia
Ini yang diajarkan oleh para asatidz untuk memberikan nasihat individu dalam keadaan rahasia. Adapula memberi nasihat secara terang-terangan yaitu saat kita hendak menasihati banyak orang seperti halnya ceramah

Keempat, Menasihati dengan lembut, sopan, dan penuh kasih
Memberi nasihat seperti inilah yang harus kita tanamkan, agar hati-hati objek akan terbuka lebar dan menerima semua masukan, karena jika dengan keras dan kasar maka akan mengakibatkan sebaliknya, pintu-pintu hati akan tertutup dari pintu hidayah, pahala akan terbuang begitu saja, dan banyak pula bantuan dari setan untuk merusak persaudaraan.

Kelima, Tidak memaksakan kehendak
Ini poin yang mencerminkan ego kita, merasa semua nasihat kita harus dituruti seakan-akan seperti bos yang menyuruh anak buahnya. Jadi, apa yang harusnya kita lakukan? Peran kita hanya lah seseorang yang menunjukkan jalan

Terakhir, Mencari waktu yang tepat
Tidak setiap saat orang yang hendak dinasihati itu siap untuk menerima petuah. Adakalanya jiwanya sedang gundah, marah, sedih, atau hal lain yang membuatnya menolak nasehat tersebut. Jika seseorang tidak bisa dinasihati dengan baik maka dianjurkan untuk diam dan hal itu lebih baik karena akan lebih menjaga dari perkataan-perkataan yang akan memperburuk keadaan dan juga bisa meminta tolong temannya agar menasihati orang yang dimaksudkan.

Jangan pernah putus asa untuk memohon pertolongan Allah karena pada hakikatnya Allah-lah Yang Maha Membolak-balikkan hati seseorang. Meski sekeras apa pun hati seseorang namun tidak ada yang mustahil jika Allah berkehendak untuk melembutkan hatinya dan menunjukkan kepada jalan-Nya.

“Jika engkau inginkan kebaikan pada saudaramu
Maka ajaklah ia tuk bergandengan
Dan beriringan menuju jalan-Nya
Bertuturlah dengan baik
Berilah senyuman tatkala ia tak peduli
Tunggulah… Bersabarlah… hingga pintu itu terbuka
Jangan kau paksa.. dan jangan pula kau marahi
Sebab nasehat itu akan berubah menjadi pisau yang tajam
Yang hanya membuat goresan di hati
Dan akan membuat lari
Jangan kau paksa.. dan jangan pula kau marahi
Sesungguhnya hidayah itu ada di tangan Sang Rabb
Yang Maha Membolak-balikkan hati”


Sakit

  • 0
Kamis, 24 Desember 2016 03.35 Detik-detik di mana penyakit itu datang secara tiba-tiba saat lelapnya tidur. Di mana haus yang dirasakan dan tak ada air sedikitpun di kontrakan, sehingga terpaksa menerobos rintik-rintik dinginnya hujan di subuh hari. Sungguh tak terduga, ketika malam badan merasa baik-baik saja dan selisih 2 jam badan secara tiba tiba bereaksi.

Banyak momen-momen yang harus di kenang dan menjadi bahan pelajaran, itulah faktor yang menjadikan saya mempunyai niatan untuk menulis catatan kecil ini.
Pristiwa kecil yang tidak boleh dilupakan di akhir semester 3. Di mana seorang sahabat menjadi sosok malaikat. Di mana seorang yang benar benar mempedulikan kita. Sampai, ketika ia tahu bahwasannya sahabatnya sakit, dia merelakan untuk tidak masuk kuliah. Memberikan terbaik untuk sahabatnya, makanan, obat-obatan, dll. Entah apa yang ada di pikirannya. Satu persatu sahabat itu datang, memberikan apa yang ia punya.

Terlihatlah keindahan ukhuwah itu, begitu manis dirasa dan harum pula baunya.

Dan mengapa aku merahasiakan keadaan ini ke publik? Ya, karena aku takut mereka khawatir dengan keadaanku ini, meskipun itu orang tuaku. Cukup diri ini saja yang merasakan dan tidak boleh ada yang mencemaskan walaupun tidak lama orang tuaku menanyakan keadaanku saat itu dan bagaimanapun harus jawab dengan jujur, tetapi dikemas seindah mungkin hehe.

Momen ini juga mengingatkanku dengan sahabat sebelum kuliah yang mempunyai tekad yang kuat dan iman yang lebih tetapi di lihat dari luar mempunyai penampilan yang biasa-biasa saja, bahwasannya ketika sakit bukan jadi halangan untuk tidak sholat di masjid, tidak pula meninggalkan bacaan qur’an. Itu yang baru tersadar oleh diri ini dan mengagumi dirinya.
Momen ini juga mengingatkan di mana diri ini seakan akan semakin jauh darinya dan diberikan teguran dengan sebuah penyakit, seolah olah mengodekan bahwa kita tidak tahu ajal yang akan datang dan terus meminta ampunan atas segala kesalahan kita dan taubat agar tidak mengulanginya kembali.

Untuk teman-temanku jaga kesehatan karena sedikit lagi uas, jangan sampai penyakit mengganggu uas kita sehingga memberikan hasil uas yang kurang memuaskan. Tingkatkan ibadah kita dan terus meminta kesehatan kepada Allah SWT karena nikmat sehat itu sangat berharga.

“Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang”
(HR. Bukhari no. 6412, dari Ibnu Abbas)