Pertama, kenapa memilih judul Renungan Dini Hari? ya karena post ini saya tulis saat dini hari biar gak nunda-nunda haha
Oke lanjut, udah mau selesai semester 2 tinggal di Semarang, menjalani kehidupan kampus. Seketika pernah berfikir, kenapa para senior HM berbeda dengan rohis, ketika ada acara mereka para HM (kalau bahasa kasarnya) memaksakan kita mengikuti acara-acara mereka dan menurut saya mereka berhasil, ya berhasil mendatangkan yang lumayan banyak para maba untuk mengikuti acara tersebut ya walaupun itu juga kewajiban kami para maba, sedangkan yang begitu 'mengharukan' di rohis, meskipun dipaksa oleh senior tetapi ada aja 1001 alasan untuk gak ikut, dan akhirnya sedikit yang bisa hadir. Di sini saya pernah merenung, kenapa rohis gak dibuat aja kayak HM, tegas, biar banyak yang dateng ke acara mereka. Ternyata renungan itu SALAH. Karena ikut rohis bukan dari paksaan, tetapi dari hati, agama itu kualitas bukan kuantitas.
Dalam sebuah forum diskusi bersama Tariq Ramadan, yang juga merupakan cucu Hasan Al Banna pendiri Ikhwanul Muslimin, Ia memberikan gagasan yang menarik mengenai kehidupan ummat bergama, terutama ummat Islam. Lebih dari 1,6 Milyar penduduk Islam saat ini, namun belum banyak memberikan kontribusi pada penduduk dunia. Ummat Islam hari ini masih menjadi beban peradaban karena ketertinggalannya, dan jika dilihat, mayoritas negara Islam adalah negara-negara dunia ketiga yang jauh tertinggal dengan negara maju. Menurut Tariq Ramadhan hal ini terjadi lantaran kualitas ummat yang jauh tertinggal.
Fokus Peradaban Bukan Kuantitas
Nabi Muhammad Saw pernah berujar bahwa pada suatu ketika ummat Islam akan memiliki jumlah yang sangat besar, namun Ia hanya seperti buih. Jika dikontekstualisasikan dengan keadaan saat ini mungkin saja banyak orang akan mengamini hadist tersebut. Karena hal inilah yang terjadi saat ini. Buih-buih itu semakin banyak, namun tidak banyak kontribusi yang diberikan, tidak banyak karya yang diciptkan, bahkan terkadang menjadi ummat yang harus disantuni.
Hal demikan bukan berarti mengutuk kegelapan atau menyalahkan kondisi ummat saat ini. Namun ini adalah bagian dari hal yang harus disadari bersama bahwa kondisi ummat yang ada saat ini berada dalam titik kritis yang harus segera diperbaiki. Untuk itu, tak perlu kita bangga dengan kuantitas. Tak perlu dikagumi berapa jumlah orang yang bergabung dalam kehidupan ummat. Namun berpikirlah satu step kedepan, apa yang bisa ummat berikan kepada dunia?
Berbica mengenai kualitas tentu banyak sekali kisah-kisah perjuangan yang nabi bisa jadi pelajar terbaik kita dalam bergerak dan berjuang. Salah satu contoh yang populer adalah Perang Badar, dimana hanya 300 orang tentara muslim mampu memenangkan perang melawan 1000 tentara musuh. Jika pada waktu itu tentara muslim bepikir mengenai kuantitas dalam berperang, maka mungkin saja “sikap pengecut” akan hadir dalam diri mereka, yakni memilih kabur dalam peperangan. Namun tidak begitu, keberanianlah yang hadir. Karena setiap tentara muslim percaya bahwa keyakinan adalah jurus terdahsyat dalam berjuang. Keyakinan adalah bahan bakar utama perjuangan, dan itu hanya bisa dibeli dengan ketaatan kepada Allah swt.
Berbicara mengenai relevansi kuantitas, hal ini bukan hanya dalam peperangan, namun secara kekinian hal ini juga terjadi disekeliling kita. Hal ini bisa kita lihat sekarang, misalkan saja mengenai hegemoni Yahudi. Hari ini populasi orang Yahudi yang mungkin saja hanya sekitar 7% dari populasi dunia, namun mereka mampu mengendalikan keadaan. Terlepas konspirasi atau bukan, kebijakan-kebijakan dunia tidak jarang menguntungkan mereka. Terkadang kelompok-kelompok kecil yang memiliki kualitas baik, akan membentuk komunitas-komunitas kreatif yang siap mengendalikan peradaban. Dan tentu, berbicara mengenai pembelajaran, tidak perlu malu belajar dengan mereka yang terkadang oleh sebagian orang itu dicap sebagai “kafir dan harus dihancurkan”. Mengkafirkan itu adalah pilihan terakhir jika tak tersadarkan, yang terbaik adalah meyakinkan kepada mereka yang kafir menuju jalan yang dikehendaki Tuhan. Karena itu sebenarnya tugas mulia yang yang diemban setiap ummat Islam dalam membangun peradaban.
Kuantitas Intelektual
Mengenail relevenasi kuantitas hari ini juga tidak harus berbicara mengenai jumlah manusia yang dihapai. Namun jika digiring dalam konteks yang lebih luas, kuantitas hari ini yang ummat Islam hadapi adalah kapital atau modal. Hal ini tentu sangat korelatif dengan pewacanaan kehidupan yang banyak menggunakan indikator-indikator materi sebagai titik ukur kesuksesan dan kemapanan. Keseganan kepada mereka yang kaya lebih tinggi dengan mereka yang taat kepada Tuhannya dan mereka yang baik dalam keilmuannya.
Hidup seperti dikejar-kejar dengan kegelisahan untuk segera memiliki materi yang banyak dan gaya hidup yang mampu memenuhi kepuasan konsumsi. Namun dalam hal ini perlu digaris bawahi, memiliki banyak materi bukanlah sebuah kehinaan, justru menjadi sebuah kebaikan jika bisa disikapi dengan benar. Yang harus dilawan adalah mindset-mindset materlisme bahwa segala sesuatu yang dilakukan dan dikerjakan ukurannya adalah materi.
Tidak hanya kapital yang merupakan wujud kuantitas saat ini, rezim yang otoriter juga merupakan hal yang harus menjadi perhatian penting untuk segera diperbaiki. Dalam setiap rezim tersebut, simpul-simpul penyalahgunaan wewenang sangat tinggi. Hal ini tentu harus diimbangi dengan pengawasan yang ketat. Namun siapa yang mengawasi jika suara-suara rakyat dikubur dalam-dalam oleh pemerintahan yang anti kritik? Perjuangan melawan rezim yang zalim dan menjadi tirani adalah tindakan jihad yang tentu harus dilakukan oleh setiap “tentara-tentara Islam” yang menginginkan kemaslahatan.
Menjiwai Rahmatan lil alamin
Menjiwai rahmatan lil alamin adalah berfokus pada titik kualitas. Sebenarnya hal ini pula yang berusaha dibangun Islam sejak awal kehadirannya. Tentu setiap orang ingat bahwa perintah membacalah yang pertama hadir sebagai wahyu pertama yang diberikan Allah kepada nabi. Ini adalah sinyal kuat kepada ummat Islam bahwa ketika mengingkan agama Islam menjadi sebuah rahmat kepada seluruh alam, maka kekuatan intelektuallah yang harus menjadi salah satu titik awal untuk diperbaiki.
Disisi lain, Allah dalam surat Ibrahim juga berbicara mengenai kekuatan hati. Hati ini adalah akar yang harus dikuatkan dan mengujam ke dalam tanah yang dalam. Kuatnya akar akan melahirkan batang-batang yang kuat, cabang yang kokoh, dan pohon yang mampu bertahan diterjang angin besar. Analogi itu kemudian memberikan pengetahuan penting kepada manusia, jika akar itu adalah hati maka janganlah bermain-main dalam mendidik hati. Karena jika hati rapuh maka akan mudah terbawa dengan apa yang orang lain pandang, dan apa yang dunia wacanakan. Namun jika ia kokoh, maka ia akan tetap teguh memegang prinsip agama yang diyakini, dan prinsip yang dikehendaki oleh Allah swt.
Kedua hal ini, akal atau intelektualitas dan hati, disebut dengan Fuad. Fuad inilah yang akan membangun kualitas manusia dalam menyikapi keadaan. Karena sesungguhnya, agama ini tidak menghendaki kuantitias sebagai titik tolak kesuksesan. Namun kualitaslah yang menjadi indikator keberhasilan yang nantinya setiap individu yang memperoleh itu, akan diberikan pakaian terbaik oleh Allah swt, yakni “Jubah ketaqwaan”.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar