Syarat Utama Meraih Cita-cita

  • 0
Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah dalam kitab Fawaaidul Fawaaid memberikan sebuah nasihat untuk kita semua

المطلب الأعلى موقوف حصوله على همة عالية ونية صحيحة

(Al mathlubul A'laa mauquufun hushuuluhu 'alaa himmatin 'aaliyah wa niyyatin shohiihah)
“Cita-cita yang tinggi tergantung kepada Himmah 'Aaliyah (keinginan yang mulia) dan Niyyah Shohihah (niat yang baik)"

(Aku pengen jadi keluarga Allah) ridhho Allah... karena saat hafal quran bisa memberikan syafaat buat orang tua. Dapat menjadi dai yang qurani. Hafidzoh yang daiyah.

Imam Ibnu Qayyim menyebutkan syarat pertama keberhasilan meraih cita-cita adalah memiliki  همة عالية (himmah 'aaliyah) atau علو الهمة ('uluwwul himmah).


الهمة: هي البا عث على الفعل و هي الإرادة والقصد والعزيمة على العمل

Himmah adalah motivasi perbuatan, kemauan, niat dan tekad untuk melakukan sesuatu.

(Motivasiku agar bisa lebih mermanfaat untuk orang lain, mulai dr disi sendiri, keluarga, masyatakat, negara, hingga dunia. Menjadi sosiolog islam, yang logis dengan pemikitan qurani)

Tetapi untuk mencapai المطلب الأعلى (Cita-cita yang tinggi), misalnya menjadi Ahlul Qur’an wa Hamilur Risalah, dia tidak cukup sekadar punya himmah, tapi harus memiliki همة عالية atau علو الهمة (himmah yang tertinggi).

Begitu pula ketika seseorang ingin menjadi dokter, maka ia tidak bisa diraih dengan perjuangan "seorang mahasiswa yang tidak punya himmah menjadi dokter".

Munculkan seluruh faktor yang menghadirkan himmah 'aaliyah untuk menjadi dokter, misalnya ingin menjadikan profesi dokternya sebagai ladang dakwah, ingin berbakti kepada orang tua atau ingin turut membangun negeri ini dengan profesinya sebagai dokter.

(Aku ingin profesi sosiolog ini menjafi ladang dakwah, apalagi jika pemikiranku dilatarbelakangi hikmah hikmah alquran. Sungguh itu adalah nikmat terindah)

Jika tidak memiliki himmah tersebut maka perjuangan menjadi seorang dokter juga bisa jadi hanya sekadar angan - angan saja.

Apa makna همة عالية atau علو الهمة?
Di dalam kitab Rasaail Al Ishlah :  2/86, Syaikh Muhammad Khudor Husain menjelaskan :

استصغار ما دون النهاية من معا لي الأمور

"Menganggap kecil segala hal selain dari urusan-urusan yang mulia"

Makna himmah inilah yang dimaksud oleh Rasulullah saw :

إن الله تعالى يحب معالي الأمور و أ شرا فها ويكره سفسافها

"Sesungguhnya Alloh mencintai urusan-urusan mulia dan terhormat serta membenci urusan-urusan rendah/remeh." (Shahihul Jami').

Seseorang yang memiliki cita-cita yang besar tentu tidak akan terpaku pada masalah yang kecil. Begitu pula seseorang yang memiliki cita-cita yang tinggi tidak akan berkutat dengan masalah-masalah yang rendah.

Seorang yang ingin bisa membaca Al Qur’an maka dia harus luangkan waktu dan mencari guru untuk membimbingnya. Begitu pula seorang mu'min yang bertekad menjadi penghafal Al Qur’an maka dia harus bermujahadah mengatasi seluruh musykilat/kesulitan yang menghadang. Baik musykilat dari dalam diri maupun dari luar dirinya.

Jika tekad menghafal masih kalah oleh ngantuk maka jangan harap bisa menghafal 30 juz, mungkin kalau cuma juz 30 sih masih bisa. Jika semangat ziyadah masih kalah oleh malas, bisa dipastikan akan gugur di perjalanan. Jika komitmen murojaah kalah oleh rasa capek, bersiaplah mengulang hafalan lama dari awal kembali. Karena itu Imam Ahmad bin Hambal menasihati kita, "Perangilah penyakit malas yang menghampirimu".

Jika untuk menjadi penghafal Al Qur’an saja himmahnya sudah pudar, bagaimana meraih cita-cita menjadi Hamilul Qur’an?  ia tentu butuh bukan hanya mujahadah, bukan sekadar bekal indibath/disiplin, tapi ia butuh tadhhiyyah/pengorbanan. Baik pengorbanan perasaan, pengorbanan waktu, tenaga, fikiran bahkan mungkin biaya. Begitu pula di bidang yang lain, apakah menuntut ilmu, bisnis, bekerja dan lainnya.

Pada titik seperti inilah dibutuhkan  همة عالية atau علو الهمة.

Di dalam kitab Shaid Al Khathir, Imam Ibnul Jauzi menegaskan tentang hakikat  همة عالية atau علو الهمة, yaitu :

خروج النفس إلى غاية كما لها الممكن لها في العلم و العمل
"Upaya jiwa menggapai puncak kesempurnaan yang mungkin dapat diraihnya dalam urusan ilmu dan amal"

Dalam sirah, kita melihat bagaimana para salafush shaleh mengejar cita-cita besar mereka.  Misalnya Imam Bukhari yang dalam satu malam bisa bangun 16 kali untuk mencatat hafalan yang dia dapatkan.

Begitu pula dengan Imam Ibnu Taimiyyah yang dalam keadaan sakit masih berupaya berdakwah dengan menghasilkan karya di bidang tulisan. Itulah sebabnya untuk seorang mu'min, sakit sekalipun tidak boleh menghalanginya untuk berdakwah dengan media yang memungkinkan agar dia tetap bisa berdakwah. Atau bagi seorang mu'min yang sedang menghafal Qur’an, sakit harus menjadi motivasi dirinya untuk makin bersemangat menghafal Qur’an saat sudah sembuh.

Demikian pula halnya untuk seorang mu'min yang menjadikan pekerjaannya atau bisnisnya sebagai ladang amal shaleh dan ladang dakwah, maka kesulitan pekerjaan, bisnis yang sedang menurun atau kondisi ekonomi yang sedang krisis seperti saat ini tidak akan membuatnya mundur atau putus asa. Tetapi himmah 'aaliyahnya yang akan membuat dia tahan banting, tawakkal, ridha, serta optimis menjalani pekerjaan atau bisnisnya. Dia memiliki keyakinan akan mampu bangkit kembali justru di tengah keterpurukan saat ini.

Contoh tentang pebisnis hebat yang memiliki "himmah 'aaliyah" diantaranya adalah sahabat Nabi saw yaitu Abdurrahman bin Auf. Karena hijrah, seluruh kekayaannya habis, dia harus memulai kembali bisnisnya dari nol. Tapi dengan "himmah 'aaliyah" pada akhirnya Abdurrahman bin Auf bisa kembali meraih kejayaan bisnisnya. Itulah keajaiban dan kekuatan "himmah 'aaliyah atau 'uluwwul himmah"

Kemudian nasihat kedua Imam Ibnu Qayyim agar kita berhasil meraih cita-cita adalah hendaknya memiliki "Niyyah Shohihah" (niat yang benar)

Punya himmah 'aaliyah tapi niatnya salah, maka cita-citanya juga akan kandas. Sekalipun berhasil pasti tidak merasa bahagia.

Imam Ibnu Rajab Al Hambali memberikan nasihat bijak, "Siapa yang ikhlas mengejar cita-cita semata karena Alloh, rindu bertemu dengan Alloh, mengharap ridha dan rahmat Alloh, maka Alloh swt akan menolongnya di saat sulit, Alloh swt akan menuntunnya, memudahkan jalannya sehingga dia mendapat kebahagiaan hakiki saat cita-citanya terwujud.

Karena itulah, untuk menjaga keikhlasan hendaklah selalu ingat 3 hal :

1. Berjuanglah untuk akhirat, sehingga kita selalu ridha dengan apapun hasil di dunia setelah ikhtiar dengan maksimal.

2. Jangan salah memilih teman, karena ia akan menjadi penghalang terwujudnya cita-cita atau menjadi pendukung tercapainya cita-cita kita.

3. Bersabar menjalani prosesnya, artinya kita juga harus sabar merubah kebiasaan lama yang tidak mendukung tercapainya cita-cita, serta bersabar untuk memetik buah pada saatnya. karena tak ada hasil terbaik dari suatu produk dan sistem yang instan.

Maka, sebagai penutup risalah ini, saya petik nasihat dari Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah, bahwa :

📖 An Niyyah, Tufridu Lahuth Thoriiq

Artinya, niat akan "menyendirikan jalan". Maksudnya, niat yang baik akan mempermudah jalan menggapai cita-cita.

📖 Al Himmah, Tufridu Lahul Mathluub

Artinya, tekad akan "menyendirikan yang ia cari". Maksudnya, jika tekad meraih cita-cita disimpan pada titik paling tinggi, maka tak ada rintangan yang tak mampu diterjang.

Jadi, Himmah 'Aaliyah dan Niyyah Shohihah adalah kunci keberhasilan meraih cita-cita kita, di bidang apapun di dunia. Serta kunci keberhasilan meraih cita-cita akhirat kita.

Hanya kepada Alloh swt kita memohon petunjuk dan pertolongan.

Bandung, 30 Agustus 2015, 22.28 WIB
Ust. Suherman, S.Ag. Al Hafizh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar